Hasil Karya
Kegiatan Lomba KKN-PPM 2015
KKN Pandeglang
Kunjungan Unhan
Kunjungan Universitas Tidar Magelang

Biografi Tokoh

2015-03-31 08:51:31 | 1332 Kali Dibaca

Khoirul Anwar, Tukang Ngarit Penemu Teknologi 4G

Usianya baru 36 tahun. Meski begitu, Khoirul Anwar berhasil mewujudkan mimpi membuat teori baru seperti Albert Einstein dan Michael Faraday. Putra dusun di pelosok Kediri, Jatim, itu menciptakan teknologi transmitter yang kini dikenal di dunia telekomunikasi sebagai teknologi 4G.

Laporan BAYU PUTRA, Jakarta

PANGGUNG Achmad Bakrie Award Rabu lalu (10/12) menjadi salah satu bentuk apresiasi masyarakat Indonesia atas prestasi fenomenal Anwar, begitu dia kerap disapa. Dia meningkatkan level telekomunikasi global lewat teknologi 4G. Sebuah teknologi yang awalnya dianggap remeh sebagian kalangan.

Begitu perhelatan award selesai, Anwar langsung menjadi pusat perhatian. Para undangan berebut untuk berfoto bersama ilmuwan muda nan genius itu. Dengan sabar Anwar melayani permintaan foto tersebut. Tidak lupa, dia mengajak pujaan hatinya, Sri Yayu Indriyani Rochandi, untuk ikut berdiri satu frame.

Anwar dinobatkan sebagai ilmuwan muda berprestasi dalam ajang tersebut. Dia berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh senior seperti Emil Salim, Mundardjito, Gunawan Indrayanto, I Gede Wenten, dan Indrawati Ganjar.

Teknologi transmitter and receiver yang dibuatnya pada 2004 kini digunakan secara luas di sejumlah negara dalam layanan telekomunikasi. Dunia menyebutnya 4G LTE. Teknologi itu mulai booming di Indonesia setelah sejumlah operator seluler ramai-ramai meluncurkannya.

Anwar menciptakan teknologi 4G saat masih menempuh studi doktoral di Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang. Dia merasa gundah dengan adanya problem power pada wifi. ”Pada satu titik, ia sangat tinggi (power-nya), kemudian rendah lagi dan tinggi lagi,” ujarnya setelah meninggalkan panggung award.

Untuk mengatasi hal tersebut, Anwar menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan. Sebuah FFT dipasangkan dengan FFT aslinya dengan harapan bisa menstabilkan power. Ide itu dianggap gila oleh para ahli saat dia melakukan presentasi di Hokkaido pada 2005.

Apa yang dilakukan Anwar dianggap tidak berguna. Sebab, apabila dua FFT dipasangkan, yang terjadi adalah saling menghilangkan. Kemudian, dia juga dicemooh saat presentasi di Australia.

”Tentu saya tidak sebodoh itu. Ada teknik tertentu agar tidak saling menghilangkan. Saya tetap bersikeras karena saya tahu ini sangat bermanfaat,” kenang pria kelahiran 22 Agustus 1978 tersebut.

Setelah dicemooh di Hokkaido, Anwar pergi ke Amerika Serikat untuk mematenkan teknologi ciptaannya. Dia berhasil mendapatkan hak paten dengan nama Transmitter and Receiver, ditambah penghargaan di Negeri Paman Sam.

Tidak disangka-sangka, pada 2008 International Telecommunication Union (ITU) yang berbasis di Jenewa, Swiss, menetapkan standar teknologi 4G untuk telekomunikasi. Rupanya, teknologi yang dijadikan standar adalah teknologi yang dia patenkan pada 2006. ”Jadi, mana tadi orang-orang yang di Australia dan Hokkaido itu (yang dulu meremehkan, Red)?” kelakarnya sembari tertawa.

Kemudian, pada 2010 teknologi miliknya digunakan sebagai standar internasional untuk keperluan satelit. Karena sudah digunakan satelit, Anwar pun yakin teknologinya bisa diterapkan untuk telekomunikasi di bumi.

Pembuktian itu merupakan buah dari proses panjang, yang berawal dari sebuah arit. Ya, semasa kecil, pekerjaan sehari-hari Anwar seusai sekolah adalah ngarit (mengarit, mencari rumput untuk pakan ternak). Anwar kecil sangat menyukai sains. Karena itu, di sela ngarit, dia menyempatkan diri membaca buku mengenai teori Einstein dan Faraday.

Angan-angannya pun membubung tinggi. Dia ingin kelak bisa menciptakan teori baru seperti Einstein dan Faraday. Dia pun bertekad untuk berubah dan berupaya mengejar mimpinya. Sehingga tidak terus menjadi tukang ngarit di tempat asalnya, Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri.

Mimpi tersebut nyaris pupus saat ayahnya, Sudjiarto, meninggal dunia pada 1990. Kala itu Anwar kecil baru saja lulus SD. Dia pun kebingungan. Dia khawatir ibunya, Siti Patmi, yang dia panggil emak, tidak punya uang untuk menyekolahkan dirinya sampai ke perguruan tinggi.

Akhirnya, dengan tekad bulat, Anwar kecil memberanikan diri menemui emak dan memohon untuk disekolahkan setinggi-tingginya. Keinginan kuat Anwar meluluhkan hati sang bunda. ”Beliau bilang, ’Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,’” ucapnya dengan nada tertahan.

Anwar lalu bersekolah di SMPN 1 Kunjang, kemudian berhasil menembus SMAN 2 Kediri, yang merupakan sekolah favorit. Menjadi salah satu di antara segelintir anak desa yang bersekolah di kota membuat Anwar minder. Namun, rasa minder itu mampu dikalahkan ketekunannya menuntut ilmu. Hasilnya, dia menjadi juara kelas pada tahun pertama.

Saat duduk di kelas II SMA, Anwar yang indekos di Kediri mencoba mengirit pengeluaran agar tidak membebani sang bunda. Caranya, dia tidak sarapan sebelum berangkat sekolah. Ternyata, peringkat dia merosot ke urutan keenam. ”Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kenangnya.

Ibu salah seorang temannya lalu menawari Anwar untuk ngenger (menumpang tinggal) di rumahnya secara gratis. Sarapan pun terjamin dan hal itu membuat peringkat Anwar kembali ke urutan teratas, bahkan terbaik di sekolah. ”Saya berpesan ke murid-murid di seluruh Indonesia agartidak mengabaikan makan pagi. Saya sudah buktikan sendiri,” tuturnya.

Anwar lalu melanjutkan studi ke Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia lulus sebagai salah seorang wisudawan terbaik ITB pada 2000. Anwar lalu berupaya mendapatkan beasiswa magister yang ditawarkan Panasonic Jepang. Dia lulus seleksi dan memilih universitas di Tokyo sebagai tujuan.

Rupanya, kali ini Anwar menemui ganjalan. Dia tidak lolos seleksi yang diadakan sebuah universitas di Tokyo plus tidak lulus ujian kemampuan bahasa Jepang. Anwar sangat sedih dan malu saat tahu tidak lolos. Agar tidak dipulangkan, akhirnya dia beralih ke universitas lain, yakni NAIST, yang juga di Jepang. Dia berhasil lolos masuk NAIST dan menyelesaikan studi magisternya selama 1,5 tahun. Dia kemudian melanjutkan studi doktoral dan meneliti transmitter tersebut.

Saat ini Anwar menjadi asisten profesor di Japan Advance Institute of Science and Technology. Selain mematenkan 4G, Anwar mengembangkan teknologi itu dengan mengefisienkan power. Karena berisiko terjadi interferensi (interaksi antargelombang) yang bisa merusak.

Anwar terinspirasi tayangan kartun Dragon Ball Z ketika tokoh Son Goku mengambil energi dari alam yang disatukan menjadi bola api. Bola api tersebut bernama Genkidama. Cara itu lalu dia coba di teknologi 4G dengan menarik energi sekitar untuk menunda interferensi yang berada di tengah.

Teknologi 4G modifikasi tersebut lalu dipatenkan. Begitu pula satu teknologi lain yang dia ciptakan untuk keperluan Olimpiade Tokyo 2020. Anwar bersyukur pemerintah Jepang begitu menghargai ilmuwan. Dia sebagai ilmuwan asing memperoleh kemudahan untuk mendapatkan dana riset. Bahkan, untuk urusan paten, biayanya ditanggung pemerintah Jepang.

Kemudian, Profesor Takao Hara yang membimbingnya dalam penelitian itu juga bersikap fair. Begitu tahu penelitian mahasiswanya menjadi standar internasional, dia langsung menyatakan penelitian tersebut sebagai hak Anwar. ”Eighty(80) percent for you, 20 percent for me,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu menirukan sang profesor.

Satu hal yang membuat Anwar salut, orang Jepang begitu bangga menggunakan produk sendiri meski jelek. Karena itu, ilmuwan Indonesia sebaiknya meniru Jepang. ”Saya inginnya insinyur kita, jelek-jelek nggak apa-apa, asal punya kita. Sedikit demi sedikit bisa diperbaiki,” tutur ayah empat anak tersebut.

Yang penting, prosesnya jalan terlebih dulu. Apabila sudah benar, tinggal dipikirkan cara menyempurnakannya.”Kalau kita mau langsung bikin yang hebat, tidak akanada. Orang pasti bermula dari tidak hebat. Yang mudah dulu,” tegasnya. Dia yakin ilmuwan Indonesia tidak hanya genius, namun juga kreatif dan mampu mencari terobosan.

Khusus penerapan teknologi 4G di Indonesia, bagi Anwar tidak ada kata terlambat. Peluangnya sangat besar dan bermanfaat bagi masyarakat. Pemerintah harus siap; operator seluler juga harus siap. Sebagai contoh, Indonesia bisa menerapkan e-health dengan menggunakan teknologi 4G. ”Pasien di ambulans selama perjalanan bisa dipandu dokter yang ada di rumah sakit,” tutupnya.

Sumber : http://www.jpnn.com/read/2014/12/17/276008/Mengenal-Khoirul-Anwar,-Tukang-Ngarit-Penemu-Teknologi-4G-

 

 

Cerita Hidup `Kang Emil`

Ridwan Kamil adalah anak kelahiran Bandung di tanggal 4 Oktober 1971. Terlahir dari keluarga yang sederhana namun hangat, ia menyelesaikan pendidikan tingginya di jurusan Arsitektur ITB dan lulus S2 di University of California Berkeley. Setelah lulus, ia melanjutkan pekerjaan profesional sebagai arsitek di berbagai firma di Amerika Serikat. Secara profesional telah mengerjakan lebih dari 50 proyek arsitektur dan urban design di benua amerika, Timur tengah dan Asia. Ia bersama firmanya sudah memenangkan sayembara dan penghargaan lebih dari 20 kali.

Berbekal pendidikan Urban Design, ia juga diangkat menjadi penasehat arsitektur kota Jakarta, penasehat ekonomi kreatif Taiwan dan penasehat pembangunan kota Surabaya. sehingga kota pahlawan ini mendapat banyak penghargaaan dalam pembangunan perkotaan. Saat ini diangkat Gubernur Jawa Barat sebagai Ketua Pelaksana Pengembangan Ekonomi Kreatif Jawa Barat.

Percaya bahwa kota di masa depan harus dibangun dengan konsep kolaborasi, ia mendirikan banyak komunitas sosial di masyarakat seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), gerakan Indonesia Berkebun, Bandung Citizen Journal, Konsep One Village One Playground dll.

Ridwan Kamil, memiliki visi bahwa Bandung bisa dibangun menjadi kota terbaik di Indonesia jika inovasi, kreativitas dan kolaborasi bisa menjadi ruh dalam membangun kota Bandung. Sekelumit profil di buku ini memuat sekilas ide, gagasan dan mimpi-mimpinya tentang membangun sebuah kota yang manusiawi dan berkelanjutan.Mari Membangun Kota dengan Gagasan-gagasan Baru.

Mochamad Ridwan Kamil menuliskan dirinya sebagai seorang pemimpi dan pecinta kota. Arsitek, urban designer, penulis dan dosen ini adalah pendiri Urbane, sebuah jasa konsultan perencanaan, arsitektur dan desain terkemuka di Indonesia dan manca negara. Meski berpusat di Bandung, karya- karya Urbane bertebaran di Singapura, Bangkok, Bahrain, Beijing, Vietnam dan tentu saja Indonesia. Umumnya proyek ini berupa pengembangan kawasan perkotaan seluas 10-1000 ha, atau disebut sebagai mega proyek.

Salah satu proyek yang dikerjakannya kini adalah Superblock Project untuk Rasuna Epicentrum di Kuningan Jakarta.Ia menggarap 12 hektar dari total kawasan 50 hektar, termasuk diantaranya Bakrie Tower, Epicentrum Walk, perkantoran, ritel, dan waterfront. Di luar itu, ia adalah Ketua Bandung Creative City Forum (BFCC), sebuah komunitas kreatif yang ingin menjadikan Bandung sebagai kota terindah nomor lima di dunia dalam lima tahun mendatang.

Kami bertemu di restoran Social House, Grand Indonesia, Jakarta, yang udaranya begitu dingin. Ia tampil necis dengan jas dan rambut yang kelihatan setengah basah, meski baru saja turun dari ojek motor. “Memang agak kontradiktif ya,”katanya menyadari, “selain menghemat waktu, dengan ojek saya melihat paradog kota Jakarta. Untuk menuju gedung mewah, saya melewati kampung kumuh, menyaksikan orang berpanas-panas, higienis rumah yang tidak diperhatikan, yang seringkali menempel terus di kepala, dan saya menuliskannya di blog.” Efektivitas ini memang diperlukan bagi Ridwan yang memutuskan untuk tetap tinggal di Bandung. Ia datang ke Jakarta dua kali dalam seminggu, dan menargetkan enam pertemuan dalam sehari.

Upaya keras ini dilakukannya dengan disiplin demi mematahkan tiga mitos yang selama ini mengganggu dirinya. Mitos itu adalah kalau ingin sukses harus di Jakarta, full professional dan untuk menjadi besar harus punya kantor besar. “Dari ukuran bisnis, saya buktikan. Saya tidak harus ke Jakarta. Kedua, saya tidak full professional karena sebagian patner kerja adalah dosen. Tiga, kantor saya kecil, hanya 25 orang. Untuk proyek besar, konsep saya outsourching, sehingga saya fokus di boutique design,” katanya tegas. Resep keberhasilan ini, katanya, adalah menunjukkan bahwa mereka selalu eksis kreatif dengan mengikuti berbagai sayembara desain. “Hampir 15 kali juara pertama dari tahun 2004, baik di dalam negeri maupun di luar,” ucapnya.

Memang perlu waktu sepanjang lima belas tahun untuk mendapatkan rasa percaya dirinya. Sebelumnya, ia mengaku sangat pemalu. Dilahirkan sebagai anak kedua dari lima bersaudara, dan tidak memiliki kemiripan nama dengan keempat saudaranya yang bermarga Zaman, ia acap merasa tak diperhatikan oleh orang tuanya, dan terutama ayahnya. Sebagai konsekuensi psikologis anak-anak seusianya, ia sering meluapkan amarah bawah sadarnya dengan berantem atau melakukan kebandelan khas anak-anak. Untunglah ia memiliki seorang ibu, dosen jurusan farmasi, yang bisa meredam segala gejolak emosinya. Hobinya? Menghayal. “Setiap kali ayah keliling dari berbagai negeri dan memamerkan kota-kota melalui slide show, pikiran saya melayang, membayangkan tokoh-tokoh komik hidup di sana,” kenangnya. Ayah Ridwan adalah seorang dosen jurusan hukum. Setiap kali pulang dari luar negeri, ayahnya selalu memutar slide kota-kota yang disinggahi. Kota-kota yang indah berbeda bayangan dengan apa yang dilihat di negerinya, membuat kecintaan akan kota yang menyamankan masyarakatnya mulai muncul. Sementara itu, kecintaan pada bacaan komik telah melambungkan daya imajinasinya bak Superman melanglang buana ke berbagai kota. Terasa ada semacam keinginan bawah sadar untuk bisa menyaingi perjalanan ayahnya. Kelak kesukaan ini akan memengaruhi desain gaya Ridwan yang cukup imajinatif dan tidak konservatif.

“Dalam perjalanan hidup, rupanya pilihan hidup saya banyak ditentukan oleh kebetulan,”ujar Ridwan tentang jurusan arsitektur yang kini melambungkan namanya. Pilihan pertamanya adalah jurusan Teknik Kimia. Ia pun lantas menetapkan hati untuk menjadi yang terbaik atas apapun kehendak yang harus diterima. Untuk itu, ia harus mencari tambahan uang saku dengan membuat ilustrasi cat air ke proyek dosen atau membuat maket. Hal ini dilakukan karena orang tuanya memberikan jatah yang sama dengan seluruh saudaranya. Padahal jurusan arsitektur membutuhkan biaya yang lebih banyak. “Sebagai orang yang terlahir dari sebuah keluarga yang memberikan baju kembar untuk kami bersaudara hanya pada hari lebaran, saya harus memutar otak.”

Untunglah dalam dirinya sudah terdapat intuisi bisnis yang sudah diasahnya sejak duduk di bangku SD. Ia pernah jualan es mambo bikinannya sendiri di rumahnya yang terletak di sebuah lapangan sepakbola. Di sini, ia belajar bagaimana situasi sebagai peluang, sesuatu yang kelak membantunya dalam menyusun bisnisnya. ”Kadang, saya suka menghayalkan apa yang saya bisa eksploitasi dari suasana itu dalam arti positif,” ungkapnya. Baginya, kewirausahaan merupakan hal penting dalam berbisnis. “Banyaknya kegagalan yang dialami oleh seorang arsitek itu dikarenakan mereka tidak bisa menjadi seorang enterpreneur. Enterpreneur itu butuh keberanian.”

Keberanian itu pula yang membuat ia memutuskan untuk bertualang seusai menamatkan kuliah S1-nya di Institut Teknologi Bandung dan bekerja di belantara Amerika untuk pertama kalinya. Keberanian itu pula yang akhirnya memicunya berpikir kala empat bulan kemudian ia dipecat karena krisis moneter yang menyebabkan klien asal Indonesia tidak membayar pekerjaannya. Padahal kebanggaan saat melambaikan tangan di bandara pada orang-orang yang dicintainya masih melekat di pikirannya. Terus terang ia malu pulang. “Saya katakan pada perusahaan saya, bahwa saya akan survive sendiri. Tolong jangan bilang bahwa saya harus pulang…,”harapnya pada mantan bosnya. “Inilah titik balik dalam kehidupan saya.”

“Saya merasa bahwa saya berubah karena dicemplungin dalam sosial budaya di Amerika dimana saya harus survive sendiri. Itu yang membuat saya harus menguatkan diri dan karakter saya karena saya mengembara,” katanya. Ia lalu meraih jenjang pendidikan lebih tinggi dengan mengambil S2 di University of California, Berkeley, Amerika Serikat melalui sebuah beasiswa. Ia ingat betul bagaimana demi bertahan hidup, ia berhemat dengan cara makan sehari sekali di resto murahan seharga 99 seni dan bekerja paruh waktu di dinas tata kota Berkeley. “Nilai-nilai hidup saya banyak lahir dari tekanan, dan nilai itu yang saya pegang dan jadikan cara bernegosiasi dalam kehidupan.” Dari Amerika, ia pindah ke Hongkong untuk bekerja.

Setelah dirasa cukup pengalaman, ia kembali ke Indonesia dan mendirikan bendera bisnisnya sendiri (2004). Rencana baru dibangun. “Dalam empat tahun pertama, target saya membangun reputasi dari sisi komersial. Menasehati klien yang banyak uangnya untuk membuat kota yang lebih baik. Empat tahun berikutnya, ini artinya sekarang, saya fokus untuk membangun masyarakat miskin kota,” ungkap Ridwan yang begitu khawatir dengan masa depan anak-anak yang kebanyakan main di shopping mall dan time zone. Karena itulah, ia kini serius menggarap proyek CSR perusahaan besar dengan program one village one playground. Mengapa dua rencana itu tidak dilakukan secara bersamaan, ia punya alasan. “Saya tak bisa melakukan kekumuhan dan kota secara bersamaan. Ini hanya soal pemilahan aja,”katanya.

Bila kini ia begitu memperhatikan masyarakat miskin, ini bukan soal romantisisme atau kegenitan belaka. “Saya pernah merasakan menjadi masyarakat miskin kota,”ia mengutarakan masa kelamnya di New York. Ia diberhentikan dari tempat kerjanya, tepat pada saat sang istri akan melahirkan anak pertamanya. Hal itu terjadi karena kelalaian perusahaan tidak memperpanjang visa kerjanya, dan ia terpaksa disebut sebagai menjadi pendatang ilegal, dan tak punya pekerjaan.

Demi mendapatkan pelayanan kesehatan, ia harus mengaku miskin kepada pemerintah setempat. Untuk itu, ia terpaksa memalsukan cek perusahaan agar dituliskan gaji sebesar 30% dari gaji sesungguhnya agar mendapat kriteria miskin karena syarat masuk ke rumah sakit miskin ia harus bekerja dengan gaji di bawah standar. “Akhirnya saya menemani istri saya melahirkan di rumah sakit khusus masyarakat miskin. Di ruangan itu, selusin ibu-ibu menjerit. Hampir

belasan jam saya di sana. Stress sekali. Memori itu masih kuat hingga kini.”

Pengalaman inilah yang terus menyadarkannya akan geliat roda kehidupan. “Mungkin kini saya tengah berada di atas, tapi alhamdulilah saya tidak akan pernah melupakan berbagai peristiwa itu. Karena banyak beruntung, maka saya menyisihkan uang kantor untuk berzakat, selain berpajak.” Ia juga mewakafkan tanah bagi penduduk miskin di sekitarnya. Kebaikan ini, katanya, sering pula dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang membuatnya gundah. “Makanya filosofi hidup saya adalah to live is to give. Nasehat dari ibu saya terbukti, semakin banyak memberi, rejeki saya semakin banyak. Saya nggak tahu secara misterius ada korelasinya. Moga-moga saya bukan termasuk orang yang pelit.”

“Kalau orang bilang orang mati meninggalkan nama. Bagi saya, keinginan tertinggi saya adalah kalau saya mati saya meninggalkan inspirasi, ide, cerita yang orang lain akan lanjutkan.” Hidup dalam berupa-rupa tantangan rupanya mengalir juga pada hasratnya pada wanita. “Istri saya waktu itu yang ngecengin hampir 35 orang. Tanpa sengaja, saya baca buku hariannya, dan menemukan posisi saya di urutan 36-37,”ujar Ridwan yang menyukai wanita yang memiliki wawasan luas, pandai komunikasi, bisa berbahasa Sunda dan seksi seperti Aura Kasih. Karena mendapatkan tipe itu di diri Atalia Praratya, dan tak mau kehilangan, selain tentu saja keinginan untuk menaklukkan tantangan, ia memutuskan menikah saat usianya baru 25 tahun dan belum mapan. Ia mengaku diuntungkan oleh anggapan masyarakat bahwa jurusan arsitektur memiliki prospek yang baik di mata mertuanya. “Lalu untuk calon istri saya, saya hanya memberinya mimpi-mimpi. Kalau kamu sama aku, aku pasti akan ajak kamu keliling dunia, dan dia mau, “ia lalu tertawa. “Saya tidak membual. Saya selalu punya cara untuk meraih mimpi dalam segala hal.” Bapak dua anak ini kini sudah meraih semua yang diinginkannya.

Lalu ia tiba-tiba terdiam. “Saya jadi ingat ayah. Bila dulu saya rebellious terhadap ayah, saya banyak berontak dalam hidup, setelah ayah meninggal, kangennya luar biasa. Banyak nilai dalam hidup ayah yang saya rasakan sekarang. Saya kini lebih paham ajaran ayah saya ketika saya dibenturkan dengan realita hidup sesungguhnya,” di akhir pertemuan itu ia mengenang kembali sosok sang ayah yang meninggal saat ia tengah mengerjakan tugas akhir kuliahnya. “Salah satu yang mendorong saya jadi arsitek adalah ayah, karena dia suka renovasi rumah. Mungkin dia bermimpi ingin jadi arsitek,”lanjut Ridwan yang merasa kini wajahnya menjadi sangat mirip dengan ayahnya.

“Seandainya ayah masih hidup, mungkin ia akan bahagia melihat saya sekarang,” ucapnya. Matanya berkaca- kaca. Diam. Lama. Lalu tangannya menuliskan status di facebook-nya dengan segera: Ridwan Kamil thinking his childhood life, I miss my late dad

 

(Sumber : http://hadipratama26.blogspot.com).

Login